Warning: Illegal string offset 'id' in /home/unipduac/public_html/rektor/wp-content/themes/academica/single.php on line 4

Warning: Illegal string offset 'id' in /home/unipduac/public_html/rektor/wp-content/themes/academica/single.php on line 4

Warning: Illegal string offset 'id' in /home/unipduac/public_html/rektor/wp-content/themes/academica/single.php on line 4

Warning: Illegal string offset 'id' in /home/unipduac/public_html/rektor/wp-content/themes/academica/header.php on line 4

Warning: Illegal string offset 'id' in /home/unipduac/public_html/rektor/wp-content/themes/academica/header.php on line 4

Warning: Illegal string offset 'id' in /home/unipduac/public_html/rektor/wp-content/themes/academica/header.php on line 4
Sekolah Unggulan: Lembaga Pendidikan Umat

Home » Artikel Islami » Sekolah Unggulan: Lembaga Pendidikan Umat

 
 

Sekolah Unggulan: Lembaga Pendidikan Umat

 

madrasahSejarah telah amat fasih berbicara dengan bukti-bukti historisnya, bahwa masyarakat yang unggul, jaya dan sejahtera adalah masyarakat yang unggul sumber daya manusianya (contoh: Singapura, Jepang, Swiss dll). Masyarakat akan unggul sumber daya manusianya, manakala unggul pendidikannya. Pendidikan akan unggul, apabila lembaga pendidikannya dikelola secara professional. Untuk dapat mengelola secara professional, tentu dibutuhkan dana yang cukup.

Sampai di sini, ketika dana ikut “berbicara” dalam pendidikan, maka rakyat miskin akan menjerit, terhimpit karena dalam posisi amat sulit, padahal mereka adalah “konsumen” terbesar lembaga pendidikan di Indonesia. Data terkini Depdiknas menyebutkan, bahwa kondisi sosial-ekonomi orangtua murid SD/MI (Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah) dan SMP/MTs (Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah) adalah: 60 % tidak mampu, 38 % menengah/mampu dan hanya 2 % yang sangat mampu.

Sekolah Unggulan dalam Perspektif Globalisasi

Era globalisasi merupakan arena kehidupan penuh kompetisi dengan fasilitas kecanggihan teknologi informasi. Hal ini menuntut penyiapan sumber daya manusia yang handal dan educated. Untuk itu diperlukan lembaga pendidikan yang handal pula dalam hal pengelolaan kurikulum (materi dan metode), sumber daya manusia (murid dan guru), dan sumber daya keuangan.

Tuntutan ini hanya dapat dipenuhi oleh lembaga-lembaga pendidikan dengan beaya tinggi, seperti sekolah unggulan, dengan beberapa kelebihan dan kekurangannya. Sekolah unggulan memiliki beberapa kelebihan, antara lain:

  1. Kesejahteraan guru dapat diperhatikan, sehingga semangat kerjanya terpacu dan pengabdiannya juga dapat sepenuh hati.
  2. Fasilitas pembelajaran dapat terpenuhi secara relatif maksimal, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung lebih baik.
  3. Seleksi murid potensial lebih dapat dilakukan karena umumnya para peminat sekolah unggulan adalah mereka yang di samping berkecukupan secara materi, juga berlatar belakang pendidikan dan prestasi lebih baik.
  4. Image sebagai sekolah unggulan secara psiko-belajar merupakan pemacu ampuh bagi aktifitas dan kreatifitas murid.
  5. Dana yang memadai memberi andil yang besar bagi terpenuhinya kebutuhan inovasi kurikulum dan kreasi serta dinamisasi pembelajaran.

Namun dalam tatapan lain, sekolah unggulan memiliki catatan minus di mata masyarakat umum, antara lain:

  1. Mengesankan sebagai kelompok masyarakat elitis yang terbentuk lantaran berhimpunnya golongan ekonomi menengah ke atas saja dalam suatu sekolah.
  2. Sekolah unggulan tidak terjangkau oleh anggota masyarakat ekonomi lemah walau cerdas.
  3. Sekolah unggulan banyak yang tidak berhasil mendidik akhlaq murid, karena proses pembelajaran lebih terfokus pada penenganan potensi intelektual dan skill.
  4. Sekolah unggulan tidak dapat menjadi sekolah masyarakat/umat yang mayoritas bertaraf ekonomi lemah/miskin.

Sebagai keniscayaan hidup pada era globalisasi dengan kompetisi ketat yang dipacu arus informasi cepat dan teknologi tinggi amat hebat, apapun kekurangan dan kelemahannya, sekolah unggulan menjadi niscaya pula adanya. Namun untuk menaungi masyarakat miskin dan mempersempit kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin, serta tetap memberi peluang bagi mereka yang potensial, disarankan kepada sekolah unggulan agar:

  1. Memberi kesempatan kepada mereka yang cerdas tapi miskin untuk dapat bersekolah di sekolah unggulan dengan beasiswa prestasi.
  2. Menyisihkan sebagian dana pendidikan yang dihimpun dari peserta didik untuk disumbangkan kepada murid “sekolah-sekolah non unggulan” yang ada di sekitarnya.
  3. Menjalin kerja sama (tepatnya memfasilitasi) dengan “sekolah-sekolah non unggulan” di sekitarnya untuk dapat ikut memanfaatkan peralatan di sekolah unggulan dengan syarat-syarat tertentu.
  4. Memberikan asistensi (bantuan) ketenagaan pada “sekolah-sekolah non unggulan” agar secara berangsur terjadi “alih teknologi” pembelajaran.

Kurikulum Sekolah Unggulan

Gemuknya kurikulum (dalam arti sempit, yaitu bahan ajar) karena terlalu banyak yang ingin didapat, ternyata justru sebaliknya, terlalu banyak murid yang tidak dapat apa-apa untuk bekal menghadapi kehidupan. Dengan kata lain banyak murid setamat sekolah tidak memiliki keterampilan hidup. Maka kurikulum sekolah unggulan harus ramping, tidak ada titipan di luar tujuan dan bakat-minat murid. Diperlukan juga kordinasi antar jenjang,  sehingga tak terjadi pengulangan berlebihan seperti yang terjadi selama ini. Sekedar gambaran, matapelajaran thaharah (bersuci) diberikan di semua jenjang pendidikan dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Hal ini jelas tidak efisien, membosankan dan menyebabkan bab-bab fiqih tak pernah tuntas dipelajari.

Metode Pembelajaran Sekolah Unggulan

Kurikulum yang baik belum bisa menjamin terpenuhinya kebutuhan murid dan sampainya misi penddikan, bila tidak didukung oleh metode yang sesuai. Perlu dipertimbangkan kemungkinan dipergunakannya secara adaptif metode Quantum Learning (interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya) dan Quantum Teaching (penggubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar untuk mengubah kemampuan dan bakat alamiah murid menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain) dalam pembelajaran. Metode tersebut terbukti sukses dalam pembelajaran di berbagai negara selama kurun waktu duapuluh tahun terakhir.
Secara garis besar kiat-kiat untuk Quantum Learning adalah: temukan satu manfaat, berikan pujian positif untuk diri anda, ciptakan tempat yang aman untuk bekerja, sadarilah cara belajar anda, gunakan peta pikiran dan catatan: TS, anggaplah menulis sebagai hal yang menyenangkan, ketahuilah kecepatan membaca anda, berpikirlah secara kreatif dalam segala situasi, dan ingatlah untuk mengingat (Bobbi DePorter & Mike Hernacki, 2000, 339).

Sadangkan asas utama Quantum Teaching adalah: bawalah dunia mereka ke dunia kita, antarkan dunia kita ke dunia mereka; dengan lima prinsip, yakni: segalanya berbicara, segalanya bertujuan, pengalaman sebelum pemberian nama, akui setiap usaha, dan jika layak dipelajari maka layak pula dirayakan. Adapun Kerangka Pembelajaran Quantum Teaching adalah TANDUR (tumbuhkan, alami, namai, demonstrasikan, ulangi dan rayakan) (Bobbi DePorter et all., 2002, 6-10).

Dengan metode ini diharapkan akan diperoleh keseimbangan peran antara otak kiri (potensi IQ, logika, matematika, tatabahasa dan evaluasi)  dengan otak kanan (potensi EQ dan SQ, kreatifitas, imajinasi, seni dan musik) yang selama ini sebagian besar manusia hanya mengandalkan peran otak kiri dan kurang memanfaatkan potensi otak kanan.

Sebagaimana diketahui, bahwa aktifitas otak terbagi dalam 4 gelombang, yaitu:

  • Gelombang Beta: saat terjaga dan bekerja normal, berfikir logis
  • Gelombang Alfa: saat rileks
  • Gelombang Teta: saat munajat dan inspirasi kreatif
  • Gelombang Delta: saat tidur

 

Untuk diketahui, bahwa sebagian besar manusia modern sangat dominan menggunakan gelombang Beta (12 % potensi otak), padahal karya besar sering terjadi dalam situasi Alfa dan Teta. Sebut saja Archimedes yang meloncat dari bak mandi dan berlari keliling kota dengan telanjang bulat sambil berucap “eureka” (kutemukan) lantaran amat senang telah menemukan solusi berat jenis. Hal tersebut dilakukan karena dia sedang didominasi oleh gelombang Alfa dan/atau Teta, sedangkan gelombang Beta tidak berfungsi/aktif. Sayang situasi Alfa dan Teta sering tertekan akibat emosi negatif, trauma masa lalu, rendah diri, kepercayaan yang membatasi, atau kurang fokus. Namun hal ini dapat diatasi dengan latihan.

Murid Sekolah Unggulan

Agar semua murid (untuk semua jenjang, termasuk mahasiswa) terhantarkan dengan mudah dan cepat sampai ke tujuan yang ingin dicapai, maka harus dirintiskan jalan yang tidak berliku-liku dan berbelit-belit menuju kepadanya, dengan cara menyeleksi mereka atas dasar bakat-minat dan bukan lagi atas dasar “ujian tulis kognitif”. Untuk itu tentunya dibutuhkan  perangkat jitu dan instrumen akurat dari para pakar penjaring bakat-minat. Oleh karenanya di manapun dan apapun jenis lembaga pendidikan, harus disesuaikan dan diserahkan kepada bakat-minat  murid itu sendiri, jangan lagi ada pemaksaan kepada mereka dari pihak manapun.

Guru Sekolah Unggulan

Semodern apapun peradaban manusia dan secanggih apapun kemajuan teknologi, guru tetap diperlukan dan bahkan memegang peran penting dalam interaksi kependidikan. Namun untuk guru masa depan tidak bisa asal tunjuk dan asal mau, tetapi harus profesional dalam arti menguasai bidang studi tertentu (bukan guru yang “serba bisa”, yang sebenarnya berarti pula “serba tidak bisa” karena setengah-setengah) dan memahami metodologi pembelajaran sesuai bidang studinya. Karenanya persyaratan untuk menjadi guru haruslah diperketat, termasuk jenjang pendidikannya harus sesuai standar keilmuan dan kependidikan. Konsekuensi dari beratnya persyaratan untuk menjadi guru, maka gaji harus memadai menurut hukum ekonomi, sehingga tidak ada lagi guru yang berprofesi ganda karena alasan ekonomi.

Pembeayaan Sekolah Unggulan

Masalah pembeayaan sekolah unggulan relatif tidak ada masalah karena SPP yang dibebankan kepada peserta didik cukup tinggi. Namun jika mau berkaca dan mampu melakukan apa yang telah dilakukan negara-negara maju bidang pendidikannya, tentu akan lebih baik. Sebagaimana dimaklumi, bahwa lembaga pendidikan yang maju di beberapa negara Barat dan Arab adalah lembaga pendidikan swasta (Harvard University di AS dan Jami’ah al-Azhar asy-Syarif di Mesir sebagai contohnya). Hal ini karena mereka tidak mengandalkan SPP sebagai sumber pendanaannya, melainkan menghimpun donatur peduli pendidikan (di Barat) dan membudayakan wakaf di kalangan umat Islam, infaq khusus pendidikan dan menggalakkan zakat (di Arab). Sulit memang, namun nyatanya mereka bisa, sehingga kesadaran wakaf di kalangan masyarakat Arab telah begitu tinggi, bahkan ada common sense bahwa mereka malu kalau sampai menjelang ajal belum wakaf. Karenanya wajar jika di hampir semua negara Arab ada Kementerian Wakaf dan Haji.

Kesimpulan
Menghadapi era globalisasi saat ini, mutak adanya kiat kependidikan yang antara lain didirikannya sekolah-sekolah unggulan. Namun agar tidak menimbulkan masalah sosial sampingan, sekolah-sekolah unggulan harus menjalin kemitraan dengan “sekolah-sekolah non unggulan” di sekitarnya

 

No comments

Be the first one to leave a comment.

Post a Comment


 
 
 

Warning: Illegal string offset 'id' in /home/unipduac/public_html/rektor/wp-content/themes/academica/footer.php on line 4

Warning: Illegal string offset 'id' in /home/unipduac/public_html/rektor/wp-content/themes/academica/footer.php on line 4

Warning: Illegal string offset 'id' in /home/unipduac/public_html/rektor/wp-content/themes/academica/footer.php on line 4