Home » Fiqh Kontemporer » Hukum Menikah Tanpa Restu Orangtua

 
 

Hukum Menikah Tanpa Restu Orangtua

 

buku-nikahKETENTUAN NIKAH

Sebagai pijakan awal dari pembahasan ini perlu dijelaskan lebih dulu tentang syarat-rukun nikah yang menentukan sah-tidaknya suatu pernikahan. Syarat-rukun nikah secara umum ada empat (walaupun hal ini masih diperselisihkan), yaitu: adanya calon suami dan calon isteri yang saling rela untuk menikah, lafal ijab dan qabul yang jelas, dua orang saksi yang adil dan wali dari calon isteri.

Menurut jumhur fuqaha’ (mayoritas ulama ahli fiqih) nikah itu tidak sah tanpa wali. Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Aisyah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda (yang maknanya): “Tidak sah nikah tanpa wali yang cerdas dan dua orang saksi yang adil” (HR. ad-Daruquthniy, Ibnu Majah dan Ahmad).

Bagaimana halnya jika terjadi, karena pertimbangan tertentu orangtua menolak dan tidak merestui pilihan anaknya (yang paling mungkin adalah anak perempuan), dan bagaimana pula jika anak gadisnya tetap bersikukuh nikah dengan pria yang dicintainya?

BERBAKTI KEPADA ORANTUA

Berbakti kepada kedua orangtua (birrul waalidain) termasuk salah satu ajaran asasi Islam. Allah SWT dan Rasul-Nya amat menekankan birrul waalidain ini dalam banyak ayat al-Qur’an maupun hadis shahih. Di antara ayat yang terkait hal ini adalah firman Allah SWT (yang maknanya): ” Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbakti kepada kedua orangtuamu. Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut di sisimu, maka jangan sekali-kali kamu mengucapkan kata-kata yang tidak pantas, apalagi membentak mereka. Ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (santun)” (al-Isra’ ayat 23). Sedang hadis yang terkait dengan birrul waalidain antara lain adalah sabda Nabi SAW (yang maknanya): “Ridlo Allah SWT itu ada dalam ridlo kedua orangtua, begitu juga murka Allah SWT itu ada dalam murka keduanya” (HR at-Turmudziy dari Abdullah bin ’Amr).

Tetapi bakti dan kepatuhan anak kepada orangtuanya ini terbatas pada hal-hal yang tidak mengarah kepada pelanggaran terhadap ajaran Islam. Jika sudah mengarah kepada pelanggaran ajaran agama, maka yang ada bukan bakti dan patuh, melainkan hormat saja. Demikian makna firman Allah SWT: ”Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku, sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mematuhi keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan baik…” (Luqman ayat 15).

Oleh karena itu, semua anak wajib ekstra hati-hati dalam menghadapi dan menyikapi orangtua mereka. Segala sikap dan ucapan anak harus mengacu pada pertimbangan perasaan dan kepatutan menghadapi orangtua. Sekali pun andaikan orangtua jelas salah atau tidak patuh pada ajaran agama, maka masih tersisa kewajiban anak untuk menghormatinya.

Tetapi orangtua juga tidak dibenarkan arogan dan semena-mena memperlakukan anaknya, jangan menjadi orangtua yang memancing kedurhakaan anak. Orangtua harus mengarahkan anak untuk mematuhi mereka dengan memberi contoh kepatuhannya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

NIKAH TANPA RESTU ORANGTUA

Dalam kaitan nikah, secara fiqih formal (hukum), pilihan anak yang berbeda dengan orangtua atau keengganan orangtua merestui pilihan anaknya tidak berpengaruh apa-apa terhadap sahnya pernikahan, karena restu orangtua itu tidak terkait syarat-rukun nikah. Dengan demikian nikah tersebut tetap sah dan karenanya hubungan suami isteri antara keduanya juga halal. Dalam perspektif fiqih formal, ayah lebih dominan dibanding ibu, karena menurut  jumhur fuqaha’ (mayoritas ulama ahli fiqih) ayahlah yang berhak menjadi wali bagi anak perempuannya.

Tetapi secara fiqih moral (akhlaq) dan fiqih sosial (kemasyarakatan), pernikahan yang tidak direstui orangtua akan bermasalah dan menjadi handikap bagi hubungan anak-orangtua, sesuatu yang harus dihindari. Begitu juga kengototan orangtua pada penolakannya terhadap pilihan anaknya merupakan hal yang mesti ditiadakan. Kunci semua itu adalah komunikasi antara orangtua-anak harus terjalin baik sejak mula. Dalam perspektif fiqih moral, restu ibu lebih dominan dibanding ayah, karena bakti anak kepada ibu adalah 3 berbanding 1 terhadap ayah (HR al-Bukhariy), asal mereka sama-sama bertaqwa kepada Allah SWT.

Perlu dicatat dalam kaitan ini, jika ada orangtua yang menolak pilihan anaknya hanya karena pertimbangan etnis atau tradisi, maka orangtua demikian harus berfikir seribu kali untuk mempertanggung jawabkannya di hadapan Allah SWT nanti, karena tegas jelas Allah SWT berfirman (yang maknanya): ”Hai manusia, sungguh Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, kemudian menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sungguh yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa di antara kalian. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (al-Chujuraat ayat 13). Orangtua demikian juga harus malu kepada Rasulullah SAW yang bertahun-tahun berjuang mendakwahkan Islam dan menghilangkan rasisme. Dalam suatu khuthbah yang berapi-api pada hari Tasyriq, di hadapan ribuan sahabat, Rasulullah SAW berseru (yang maknanya): ”Hai manusia, ingatlah bahwa Tuhan kalian satu dan bapak kalian juga satu. Ingatlah tidak ada kelebihan orang Arab terhadap non-Arab, tidak juga orang non-Arab terhadap orang Arab; tidak juga orang berkulit merah terhadap kulit hitam, tidak juga orang kulit hitam terhadap kulit merah, KECUALI DENGAN KETAQWAANNYA…” (HR Ahmad dari Abi Nadlrah). Makna hadis ini benar-benar sama dan sebangun dengan kandungan firman Allah SWT dalam al-Chujurat 13 di atas, bahwa ketaqwaan adalah penentu kemuliaan siapapun, bukan etnis atau suku dan lain-lain. Karenanya jangan ada lagi etnis tertentu yang merasa lebih leading, unggul dan eksklusif terhadap etnis yang lain. Bukankah tokoh-tokoh kafir yang memusuhi bahkan berkali-kali berperang melawan Rasulullah SAW juga satu etnis dengan beliau?

Oleh karena itu, hendaknya semua orangtua bersikap arif dan bertindak bijak ketika menghadapi anak yang sudah menjalin hubungan sedemikian dekat dengan seseorang dan merasa sudah amat cocok sehingga tidak mungkin lagi dipisahkan, maka lebih baik segera dinikahkan agar terhindar dari perbuatan zina. Jangan ada lagi orangtua yang bertindak otoriter dengan sikap tanpa kompromi melarang dan menghalang-halangi pernikahan mereka, yang kemudian amat memungkinkan terjadinya perzinaan. Hal ini tentu dengan syarat bahwa pihak pria harus beragama Islam. Tetapi jika pihak lelaki non-muslim, maka harus masuk Islam dulu. Jika tidak mau, maka sengotot apa pun tidak perlu diloloskan, karena dinikahkan pun tetap tidak sah dan hubungan mereka tetap dihukumi zina. Jadi bagi wanita muslimah, mutlak selektif dalam hal agama pria yang dicintai, harus muslim. Kalau tidak, maka pilihannya adalah mendapat “suami” non-muslim tapi jurusan neraka, atau berpisah dari non-muslim yang dicintai tapi akan dicintai Allah SWT dan tentu saja jurusan surga.

Wallaahu a’lam

 

113 Comments

  1. jet ' aime says:

    artikel ini sangat bermanfaat bagi saya

  2. nurul huda says:

    ini yg aku cari..

  3. ira says:

    Pak Prof yang di Rahmati Allah..
    masalah yg terjadi pada diri sy bukan karena etnis atau agama tapi karena informasi-informasi yg tidak benar dari org lain tentang sy yg disampaikan kepada org tuanya sehingga org tuanya marah besar dan mengancam anaknya dgn mengatakan “haram kau lihat jenazahku kalau masih dgn perempuan itu”, kata2 itu membuat pacar sy stress. yang menjadi kesulitan bagi kami berdua, mamanya sangat keras dan tidak akan pernah merubah pendiriannya sampai mati, apapun yg mamanya sampaikan tidak boleh dibantah walaupun dia salah,egois bukan??? pacar sy sangat takut dgn kata2 dari mamanya, padahal kami sdh sgt ingin menikah. dgn keadaan ini pacar sy sgt bingung dan akhirnya dia memilih tidak menikah untuk selamnya. kami berdua saling mencintai,dan sangat sulit untuk dipisahkan lagi. Pertanyaanku pak, langkah apa yg harus kami tempuh agar mamanya menerima sy?? salahkah kalau sy memaksa dia untuk menikahi sy? salahkah dia yg harus menuruti kata2 mamanya walaupun itu sangat menyakiti hatinya?? bukankah menikah itu juga ibadah? atas jawaban bapak sy ucapkan terima kasih. semoga kita sekalian menjadi ahli syurga,amin.

  4. ila says:

    trma ksih..
    Ne yg saya cari2..

  5. aris dije says:

    Min, Bagaimana Jika Orang tua yang menikah, namun tak di restui oleh anak??

    1. Apakah anaknya Berdosa karena sudah melarang karena tak suka ortu nya menikah lagi??
    2. apakah ortu nya yang berdoa bisa memaksakan kehendak nya?
    3. Boleh tidak bila kita membenci pasangan baru ortu kita

  6. ulil says:

    Assalamu’alaykum. maaf mau sedikit bertanya, jika alasan orangtua hanya karena laki-laki tersebut seorang tunanetra bagaimana? padahal meski dia tunanetra, dia sudah berpenghasilan, agamanya bagus dan sayan sudah sangat yakin padanya.
    mohon pendapat.terimakasih. wassalam

  7. semoga aku direstui آَمِيّـٍـِـنْ يَآرَبْ آلٌعَآلَمِِيِنْ

  8. phanto says:

    Bagaimana jika masalah penolakan orang tua krn si laki laki krn sdh beristri
    Padahal si laki laki mau memperistri si wanita karena mau mengislamkan si wanita
    Karena keluarganya adalah keluarga non muslim,di samping itu si sistri juga sudah
    Ridho dan ikhlas karena alasan saya yang saya sampaikan…

    Terima kasih

  9. arief sujadi says:

    seandainya saja orang tua saya bisa belajar dri tulisan ini mungkin tidak perlu ada kesedihan :(

  10. fulan says:

    Assalamualaikum,

    Afwan Pak,saya laki-laki, 24 tahun, dan merencanakan untuk menikah tahun depan, namun seperti artikel Bapak diatas, kedua orang tua saya menolak untuk merestui pernikahan saya, begitupun dengan kakak dan adik saya, mereka satu suara. Alasannya sebenarnya hanya 2 perkara. 1. Calon istri saya bukanlah dari ras Arab (saya masih keturunan Arab). 2. Saya merupakan salah satu tulang punggung keluarga, dan ditakutkan jika saya menikah, maka sumber pendapatan keluarga ini akan berkurang.
    Niat saya menikah bukanlah untuk melarikan diri dari keluarga, tak juga untuk meninggalkannya.
    Terima kasih atas artikelnya, menyemangati saya.

  11. ana says:

    Bagaimana jika orangtua tidak menyetujui pilihan anaknya karena faktor materiil dan perbedaan tingkat sosial?

  12. anaksayangorangtua says:

    bagaimana kondisinya,jika ayah memaksa anak perempuan untuk nikah, sementara ibu serta abang dan kakaknya si adek mau nikah tdk setuju.tidak setuju ada alasannya.1.pria yg mau di nikah tdk punya niat baik.2. mantan narkoba dan br 5 th keluar penjara.3. melarikan anak si bapak.4. pernah digebukkan masyarat.5. menikahnya memaksa cepat. sampai2 siayah perampuan yg kuat mau nikah sementara tdk terjadi “seperti hamil”. pendapat anak, ibu, paman, keluarga dr ibu juga di gubrik namun sang ayah tetap ngotot menikah anak perampuannya sampai2 istri di pukul dan di cerai.nahuzubillah..bagaimana sang anak menyikapi ini ? dan bagaimana solusinya.

  13. Prima says:

    Status menghalangi menjadi alasan orang tua untuk tidak mensetujui pernikahan kami.

    Saya memiliki niat yang tulus untuk menikahi wanita yang saya cintai & menjadi penyemangat saya dalam 4 tahun terakhir ini, sampai akhirnya mencapai kesuksesan karir yang saya capai saat ini. Entah kenapa semenjak orang tua saya mengetahui status dia yang sudah pernah menikah dengan dikaruniai satu orang anak yang juga sangat saya sayangi, kedua orang tua saya dengan keras melarang saya melanjutkan hubungan kami, padahal sebelum mereka mengetahui statusnya, dia menjadi salah satu orang kesayangan dirumah orang tua saya. Semua itu sekarang hilang, bahkan keluarga pun ada yang mencibir hubungan kami. Apakah yang harus saya lakukan? sedangkan saya sudah siap lahir dan bathin untuk meminangnya, hanya karna status semua niat dan impian saya seperti di halangi oleh gunung yang sangat BESAR.
    Salam.

  14. ode says:

    Aslmualaikum…
    Ustadz__bgm jika awalnya orgtua prempuan tdk mrestui?? Kronologisnya:
    Orgtuax prempuan tdk stuju krna ingin djodohkn dgn orang kaya,ttp si prempuan tdk stuju krna sdh punya plihan sndiri,smpai sy dbenci krna mnganggap sayalah pyebab kgagalan dr prjodohan anakx..
    Tp saya ttp brusaha untuk mndekati orangtuax dgn mnunjukkan niat baik sy mlamar anakx,b2rapa kali ditolak dgn brbgai alasan..smpai akhirnya diterima,mereka lalu mnyuruh orangtuaku untuk dtg mlamar…orgtuaku jauh2 dtg untuk mlamarkanku akan ttpi entah krna ketidak cocokan uang yg diminta dri apa yg kami tawarkan smpai mereka menunda2 dan bahkan untuk sekian wktu yg tertunda itu kmbali mreka mnolak lamaran kami dgn brbagai alasan…lalu saya kembali dtg brsama kluarga sy untuk melamar tp ditolak…
    Jdi pd intinya hanya krna prsoalan harta!!!
    Lalu siperempuan mnyampaikan kpda bapakx bahwa dia meminta restu tp lagi2 ditolak dgn alasan yg dibuat2…sampai kami memutuskan untuk menghindari zina akhirnya kami menikah dgn memakai wali hakim…
    Pada saat ini kami sdh mnyampaikan berita prnikahan kami kpd orgtuax tp mereka mengatakan bhwa mereka tdk ridho dgn prnikahan kami,,,smpai saat ini kami masih brusaha untuk membujuk orgtuax agar mnerima prnikahan kami
    Prtanyaanx: apakah sah pernikahan kami ini dgn memakai walihakim….mohon pnjelasannya unstadz

  15. fany says:

    Semoga Allah memberikan petunjuk kepd kita semua.

  16. yulan says:

    sangat berguna untuk saya

  17. Dhimas Ramadhan says:

    Terima kasih banyak atas penjelasannya :-)

  18. iip says:

    Syukron atas penjelasannya. Alhamdulillah. Ada pencerahan sedikit. Saya sebagai kakak laki2 sekaligus kakak tertua, dan sekaligus sebagai wali, saat ini menghadapi kegalauan. Merasa di tengah adik perempuan dan Ibu. Semoga langkah untuk menikahkan adik dengan lelaki pilihannya merupakan langkah yang benar, dan kami tidak terjerembab dalam kedurhakaan. wallahua’lam

  19. Fanar says:

    TApi say masih bingung bagaimana cara berbicara dengan orang tua saoal pernikahan. Saya pria berumur 25 tahun dan ingin menikah tapi orang tua saya kurang setuju karena bermacam2 alasan. Alasan yang cukup membuat saya sakit hati ketika ibu saya menolak pernikahan saya karena calon pengantin wanita umurnya lebih tua dari saya.

  20. Natardi Hidayat says:

    Kajian yang ilmiah sekali

  21. S.B says:

    Assalamu’alaikum Warrakhmatullahita’ala wabarakatuh
    saya punya permasalahan yang bagi saya sangat pelik,
    saya telah menjalin hubungan dengan seorang wanita, yang menurut saya sudah memenuhi syarat untuk saya jadikan istri, kami telah menjalin komitmen untuk mengakhiri masa lajang kami dipelaminan, sudah lebih dari 10 tahun kami berhubungan tapi sampai saat ini ayah saya masih juga belum memberikan restu, perlu diketahui juga bahwa wanita yang saya pilih itu sudah memenuhi syarat menjadi istri yang solekhah insyaallah, ditinjau dari agama insyaallah dia adalah wanita yang taat, dan mengerti agama karena dia juga mengaji bersama saya disebuah majelis ta’lim, ditinjau dari nasab, kedua kakeknya (dari jalur ayah dan dari jalur ibu) sama-sama kyai, jadi menurut saya sudah OK, dan masalah kecantikan menurut saya sudah cukup (karena cantik itu relatif)masalah harta insyaallah bisa kita usahakan bersama nantinya,
    adapun ayah saya belum menyetujui hubungan kami karena dia masih ada hubungan famili dg kami (kalau dilihat seperti hubungan Sayyidina Ali R.a dan Siti fatimah Az Zahro) jadi mbah putrinya (dari jalur ayah) adalah kakak perempuan bapak saya,
    bapak saya punya keyakinan yang katanya dari orang tua jaman dulu kalau menikah dengan orang yang masih ada hub keluarga akan berakibat buruk (menyebabkan ada anggota keluarga yang akan meninggal karena pernikahan itu, atau terkena penyakit, atau mati rizkinya, dan lain-lain)meskipun menurut agama sah.
    mohon tanggapannya melalui e-mail, dan mohon bantuan saran bagaimana caranya agar bapak saya bisa terlepas dari pengaruh keyakinan adat seperti itu. terimakasih

  22. olis pujianto says:

    terima kasih banyak atas jawaban rasa kebingungan saya….

  23. Jayuzman says:

    bagaimana jika orang tua(ibu) tdk merestui lantaran anaknya dpt janda yg umurnya jg jauh lebih tua dr umur anaknya,ttp sang anak tetap menikah tanpa restu orang tua dan keluarga,dg tetap berusaha menjaga hub baik thd keluarganya,…

  24. hari hartomo says:

    Thank’s,,,skses buat smua yg mnglami mslh spt sya.

  25. irfan M says:

    subhanalah, terimakasih pikiran saya jadi terbuka.
    Barakallah

  26. resya says:

    terima kasih informasinya sangat membatu :)

  27. Rita kartika says:

    Sangat bermanfaat bagi saya artikel ini, saya perempuan lahiran tahun 1995,mau nikah tapi tidak di restui orang tua karna laki2 pilihan saya tidak bisa memenuhi keinginan mereka( materi ) kata ortu saya harus memenuhi syarat karena itu harus sesuai dengan adat.sementara laki2 pilhan saya hanya mampu dengan jumlah uang 7 juta. Saya bingung harus bagai mna. Apa saya salah nikah dengan biaya segitu???
    Dan apa kah orng tua saya berdosa karna menghalagi saya nikah?
    Dan salah kah kalau saya tetap nekat untuk nikah dengan laki2 pilihan saya kami sama2 islam.
    Terima kasih, sya sangat mngharapkan jawabanya? Dan solusinya?

    • anez says:

      Ya kadang mmg sulit… hubungan aq pun ga direstui…. hanya karena kefanatikab dan keegoisan ortu.. jd ya pasrah aja sama Allah dan yakinlah kalau Allah akan memberikan yg terbaik untuk qta

  28. aisyah says:

    aslkum…. ini lah yang saya hadapi… orang tua saya tidak menyetujui calon suami saya karena perbedaan status. calon suami saya adalah seorang duda dengan 3 anak umurnya 40an th, sedangkan saya masih muda 26th. orang tua saya sangat melarang kami untuk menikah,, padahal kami sangat berniat untuk menikah. InsyaAllah niat kami bersungguh- sungguh membentuk keluarga yang sakinah mawaddah warohmah…orang tua saya selalu bilang kalau saya tetap nekad menikah dengan pilihan saya maka saya akan dicoret dari daftar keluarga dan dianggap sebagai anak durhaka. saat ini kami dipisahkn dalam waktu yg cukup lama dan tidak bertemu sama skali dengan tujuan agar kami menyerah ,,tapi sampai detik ini kami masih sangat saling mencintai dan tetap ingin menikah lillahi ta’ala.Bagaimana jika kami menikah dengan wali selain ayah saya tp masih ber-nasab seperti paman/ om dari ayah saya?apakah saya durhaka pada orang tua jika tetap menikahi suami pilihan saya? apa yang harus saya lakukan, Mohon nasehat dari Bapak rektor.terimakasih,,wassalam

  29. arie says:

    sangat bermanfa’at bagi saya,,,tris

  30. arie says:

    pencerahan

  31. aldi says:

    sy telah menikahi wanita yg sy cintai tapi pernikahan kami lakukan diam” krn kami yakin akan pertentangan orang tuanya, kmi gak mau terjebak dalam zina, sekarang isri saya di paksa untuk menikah dg laki-laki lain, dan ortunya berusaha memisahkan kami dan memisahkan sy dengan anak saya, apa hukum dari semua yg sy ceritakan tadi

  32. Awir says:

    Alangkah baiknya
    kita perlu juga tanyain langsung ke ustad2
    karna bisa lebih leluasa klu ingin menanyakan yg lain lagi
    Biar complit pertanyaan yg ada di pikiran kita

  33. abdul says:

    Assalamualaikum wr.wb

    Jazakallah atas artikelnya, saya berencana menikahi seorang wanita yang saya cintai, yg saya yakini akan membawa kebaikan untuk dunia dn akhirat, begitupun si wanita. Kami sudah merasa cocok dn saling meyakini bahwa pernikahan kami akan membawa kebaikan dunia dan akhirat.
    Namun sayang hubungan kami tidak disetujui oleh org tua nya (wanita), alasanya pertama karena image buruk kampung saya yg katanya org2nya tidak bertanggung jawab kpada keluarga kedua hanya karena firasat ibunya bahwa jika kita berjodoh maka pernikahan kita hanya memberikan penderitaan bagi si wanita, padahal secara status saya punya mata pencaharian yag layak dan kaeluarga sayapun merupakan keluarga baik2.
    Saya ingin mereka mengenal diri saya terlebih dahulu namun saya sama sekali tidak diberi kesempatan. Org tuanya ngotot menikahkan anaknya dengan mantannya yg sudah putus. Pacar saya sangat menderita dgn keadaan ini, ibunya tidak akan merestui sampai matipun.
    Apa yg saya harus lakukan,
    Bagaimana hukumnya jika saya kawin lari?
    Terimakasih

  34. angger jenar wasiso says:

    assallamu’alaikum wrwb
    apabila orangtua dari si wanita blm mrestui prnkahan kami lantaran saya belum punya tempat tinggal yg dekat dengan orang tuanya..padahal kami berdua sudah cukup siap dan saya juga sudah berpenghasilan..???karna disini saya dan orangtua hanya orang rantau..makasih jwbnya..wassalamu’alaikum wrwb

  35. parman says:

    assalamualaikum…..
    sy mau nanya nh pak ustadz…
    bagaimana jika lau sy (laki2) mau menikahi wanita muslim…tapi ibu saya tidak mau dateng di nikah kami karna alasan sy harus menikah setelah kaka sy(pr)/di
    daerah kami gak boleh melangkah (hukum adat) yg menurut sya hukum adat itu hanya membodohi umat islam.sedangkan kaka sy blum ada kepastian untk menikah…sedangkan umur sdh….cukup
    sy pernah bilang ke orang tua sy klo.. syn mau menikah namun beliau mengatkan”sy merestui mu namun beliau tidak bisa datang” karna alasan di atas beliau juga menambahkan ucapanya”toh kamu itu lelaki gak butuh wali”
    1: apa hukum nya jkalau sy sgera menikah agar tdk mendekati zinnah sdangkan orang tua sperti itu???
    2: apa sy ttap menunggu kaka sy yg belum ada kepastian…namun bisa mendekatkan dngan zinnah…???
    ckup sekian dan trimakasih…..
    wassalammualaikm…….

  36. neisya says:

    Alhamdulillaah ….trims Prof.

  37. ajez aden says:

    Bgmn jka aku tdk diizinkan mnikah dgn pilihan saya karena alasan derajat martabat yg tdk ada di kaum laki laku tp islam dn dia hnya org miskin ak sekolah tinggi, sdangkn sya yakin mnjalani khidupan betdua brsama ny dn bgmn hukum ny ortu yg meminta balas budi anak yg sdh dkuliahkan shngga anak tdk dprbolehkan mnikah sbl bisa kuliahin adeknya dn mmbalas atas jasa ortu dn uang yg sdh dhabiskan smasa sya kuliah

  38. Syaiful says:

    Ust saya mau nanya, klo ponakan saya mau menikah tapi tidak dapat restu orang tua laki lantaran sakit hati sama keluarga ibu sang anak. Keberadaan bapak sedang dipenjara, saudara laki- laki bapaknya juga dipenjara. Lantaran ibu sang anak sudah meninggal. Apakah bisa diwali hakim saat akad nikah. Terima kasih

Post a Comment